© 2019  GIC
 

KEBERAGAMAAN YANG "SEHAT" DAN KEBERAGAMAAN YANG "SAKIT"

November 13, 2015

 

Bagi kalangan tertentu, title diatas tidak lazim. Menurut mereka, setiap keberagamaan mestilah positif, baik, sehat dan normal-normal saja. Namun, keyakinan ini dipatahkan oleh perilaku empiris sebagian umat beragama yang ternyata memang bermacam-macam, tidak semuanya positif dan sehat. Ada juga perilaku beragama yang tidak sehat, untuk tidak menyebutnya sakit.

 

Kita semua dikejutkan oleh bukti-bukti dimeja pengadilan, ketika simbol-simbol keagamaan (seperti “Allahu Akbar”) diteriakkan dengan penuh keyakinan dan semangat untuk melegitimasi tindakan-tindakan yang tidak manusiawi, seperti tindakan bom bunuh diri untuk menghancurkan kelompok lain yang dianggap sebagai musuh-musuh Tuhan. Sebuah tindakan yang sangat menyengsarakan banyak keluarga korban yang terkena bom bunuh diri tersebut.

 

Dari sini, kira-kira satu abad yang lalu ahli psikologi agama, William James membuat kategori keberagamaan yang sehat (Healthy minded) dan keberagamaan yang sakit (sick soul). Tanda-tanda keberagamaan yang “sehat” antara lain mempunyai sikap dan pandangan dunia (world view) yang optimistik (penuh harapan, besar hati, berpandangan luas, melihat dunia tidak selebar daun kelor), extrovert (terbuka, luwes bergaul dengan siapa saja, memiliki sense of humor tidak suka menyembunyikan perasaan jengkel dan beban berat, persahabatan luas tanpa sekat-sekat primordialisme) dan gradual (selalu sabar, lebih menekankan proses yang bertahap dan berkesinambungan tidak instant dalam mencapai cita-cita, termasuk kebaikan).

 

Sedangkan ciri keberagamaan yang “sakit” antara lain adalah pandangan dunia (world view untuk tidak menyebutnya belief, aqidah, credo, dogma) yang bercorak pesimistik (kecil hati, tidak punya harapan masa depan yang cerah dan baik, tidak begitu menggembirakan, berwajah muram-murung), introvert (tertutup, tidak banyak bicara, tidak humoris, tidak mudah bergaul, persahabatan dan pergaulan hanya terbatas pada kelompok sendiri) dan non-gradual (jika ingin punya cepat tercapai, tidak sabar, instant, tidak memperhatikan proses panjang yang harus dilalui jika mempunyai cita-cita atau keinginan).

 

Selain William James, ahli psikologi sosial keagamaan Gordon W. Allport juga mempunyai kategori keberagamaan manusia yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Keberagamaan yang intrinsik lebih menekankan pada hal-hal yang terkait langsung dengan tujuan akhir (end, ghayah) keberagamaan umat manusia, yaitu nilai-nilai dasar yang dapat menopang kehidupan bersama antar umat manusia secara baik. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai intrinsik yang fundamental ini, maka sikap-sikap kewenang-wenangan (ingin benar sendiri), buruk sangka terhadap orang dan kelompok lain diluar kelompoknya, (prejudice) sifat-sifat yang hanya menekankan diri dan kelompok agamanya sajalah yang paling benar (dogmatism, fanatism) sedikit dapat dihindari.

 

Untuk dihindari sama sekali tidaklah mungkin karena sifat dasar (nature) dari manusia memang punya bakat seperti itu. Sedangkan keberagamaan yang bersifat ekstrinsik menganggap sebaliknya. Keberagamaan yang ekstrinsik menurutnya selalu terjebak pada simbol-simbol (means, wasitah, media, alat). Agama dilihat hanya sebagai alat, bukan sebagai tujuan. Bersikap buruk sangka pada pengikut kelompok agama lain (prejudice,su’u al-dzan) selalu berkait dengan keberagamaan yang ekstrinsik karena entitas agama hanya melulu dilihat sebagai alat sosial (social function) untuk menambah banyaknya anggota-anggota organisasi supaya umat atau kelompok tertentu bertambah kuat untuk merebut dan menghegemoni kekuasaan. Politisasi agama masuk wilayah ini.

 

Tidak mengherankan jika nilai-nilai, yang menurut William James dikategorikan keberagamaan yang sakit (sick soul) tumbuh subur disini, seperti mempertebal perasaan tidak suka atau buruk sangka kepada kelompok lain, buruk sangka kepada kelompok pesaing (rival), memperkuat kecenderungan segregasi, pengkotak-kotakan masyarakat, politics of difference, kesewenang-wenangan dalam beragama (authoritarianisme), fanatisme kelompok yang sangat akut dan begitu seterusnya.

 

Keberagamaan yang sakit ini mudah sekali menjadi target bidik dan makanan empuk bagi para provokator yang dengan “kepentingan” sendiri ingin mengail di air keruh. Masyarakat akan menjadi sangat rentan, rapuh, frigile, mudah pecah, mudah terpancing oleh isu, mudah terpikat oleh iming-iming, dan mudah dibakar (suggestibility). Keberagaman yang bercorak ekstrinsik memang sangat rentan.

 

Jika mengikuti analisis Gordon Allport, tindak kekerasan di tanah air baik domestic violence dan lebih-lebih public violence, tidak bisa terlepas sama sekali dari pola pendidikan agama di sekolah, pesantren, seminar, majlis-majlis taklim, lembaga dakwah kampus, dan perguruan tinggi. Perlu penelitian lapangan yang lebih mendalam untuk menolak atau menerima hipotesa ini.

 

Mutual distrust (rasa tidak saling percaya) antar berbagai kelompok di masyarakat seperti yang dialami di tanah air saat sekarang ini, disamping dipicu oleh lemahnya kinerja pemerintah dengan masih menguatnya KKN di berbagai lembaga-lembaga negara, jangan-jangan corak keberagamaan bangsa Indonesia memang lebih dominan yang bersifat ekstrinsik daripada yang intrinsik. Bagaimana cara keluar dari jebakan dan jeratan yang menggurita ini?.

 

 

Sumber gambar: Wissenschaftsrat

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

  • twitter-round
  • instagram-4-512
  • facebook-7-xxl
  • youtube-2-256
Risalah Islam Cinta

November 23, 2018

October 19, 2018

September 21, 2018

July 20, 2018

May 25, 2018

February 7, 2018

Please reload