© 2019  GIC
 

FAQ (Frequently Asked Question) Tentang Gerakan Islam Cinta

February 6, 2018

 

 

 Tanya:

 

Islam Cinta berpendapat bahwa kita tidak boleh membenci siapa pun, meskipun penjahat atau penindas. Apakah itu berarti menurut perspektif Islam Cinta kita harus diam saja melihat kejahatan dan penindasan seperti itu? Atau, kalau pun boleh berupaya mengatasinya atau melawannya, kita tetap tak boleh menggunakan kekerasan? 

 

Jawab:

 

Tentu kejahatan harus ditahan dan dihentikan. Penindasan harus diatasi, kalau tak bisa dengan damai, dengan kekuatan (kekerasan). Kalau tak bisa dibuat paham dan menghentikan kejahatannya dengan damai, maka kita harus melawan, menaklukkan; kalau harus menghukum, maka hukumlah. Tapi dorongannya tetap cinta.

 

Tanya:

 

Pertanyaannya kemudian, apakah itu semua bisa kita lakukan dengan tanpa membenci mereka, dengan kata lain kita masih bisa mempertahankan rasa cinta kepada orang-orang jahat dan penindas seperti itu? 

 

Jawab:

 

Kita bisa melakukan keduanya, mengatasi,  bahkan melawan kejahatan dan penindasan tanpa membenci para pelakunya, bahkan tetap mencintai mereka. 

 

Caranya, pertama, ingatlah bahwa dia makhluk Allah juga, yang diciptakan karena Cinta-Nya, makhluk yang Dia sebut sebagai 'iyal (keluarga)-Nya. Dan bukankah yang dari Allah tak mungkin buruk dalam hakikatnya? Tugas kita memperbaiki (lagi-lagi, termasuk melawannya).

 

Dan jika diperlukan kita menghukum mereka, maka motifnya adalah demi merehabilitasinya. Kita perangi penjahat agar dia berhenti dari kejahatannya yang mengganggu manusia. Atau, kalau dia harus dipenjara, bahkan kalau terpaksa harus terbunuh/terhukum mati (tentu itu semua harus dilakukan lewat mekanisme yang sah secara hukum dan oleh pihak-pihak yang punya wewenang khusus) maka itu dilakukan demi menghalangi gangguannya yang lebih jauh terhadap masyarakat luas. Sekaligus demi menghentikan dia dari berbuat kejahatan lebih jauh atau bahkan lebih besar, yang akibatnya justru akan membuat dosanya makin menumpuk. Ingat tindakan Nabi Khidhr kepada seorang anak muda yang diketahui akan durhaka ketika dewasa.

 

Nabi pun selalu mengharapkan kebaikan atas semua makhluk, baik atau jahat, muslim atau kafir,  dst. Waktu jenazah Yahudi lewat, Nabi menangis sambil menyesali kenapa tak sampai punya cukup kesempatan untuk bisa menunjukkan jalan yang benar kepadanya. Dalam hadis, Nabi ajarkan bahwa semua makhluk adalah keluarga Allah. Yang paling dicintai-Nya adalah yang paling baik kepada makhluk-Nya.

 

 

Tanya:

 

Bagaimana cara melatih diri kita agar tak punya kebencian kepada siapa pun, bahkan kepada orang-orang jahat?

 

Jawab:

 

Cara umumnya, terus bermujahadah, mendidik hati kita untuk siap mencintai siapa pun. Pasti ini akan jadi perjuangan keras seumur hidup. Jihad akbar. Tapi mengembangkan cinta kepada semua makhluk Allah itulah esensi agama. Bahkan itulah agama, semuanya. Halid diin illal hubb? "Apalagi agama itu kalau bukan cinta?" kata Imam Ja'far al-Shadiq.

 

Versi lain yang lebih lengkap dari hadis menjelaskan, yang artinya; yakni cinta karena Allah dan benci karena Allah. Apa makna benci karena Allah? Benci kepada perbuatan orang sambil memiliki keinginan menjadikan  makhluk-Nya lebih baik. Bukankah, dalam sebuah hadis Qudsi, Allah SWT memfirmankan bahwa "Kasih-sayang-Ku menaklukkan murka-Ku?" Dengan kata lain, murka-Nya adalah bagian dari Kasih-sayang-Nya.

 

Ada ucapan Dalai Lama yang menyadarkan kita bahwa semua orang butuh cinta. Kata Dalai Lama: Penjahat itu manusia juga. Rentan kepada penderitaan. Dia ingin bahagia seperti kita, dan takut menderita seperti kita juga. Hanya caranya untuk meraih kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan keliru. Maka tugas kita membantu dia mendapatkan kebahagiaan dengan cara yang benar. 

 

Kata Bunda Theresa: "The most terrible poverty is loneliness, and the feeling of being unloved. Kemiskinan yang paling buruk adalah kesepian dan perasaan tak dicintai. Kesepian karena tak punya siapa-siapa, atau tak dipunyai siapa-siapa bisa membuat orang jadi psikopat, penjahat, dan teroris.

 

Itulah temuan berbagai riset. Terorisme banyak  didorong rasa termarjinalisasikan pelakunya dari masyarakat. Fraternitas (persaudaraan) yang ditawarkan kelompok-kelompok ekstrem terasa sangat menarik dan, akhirnya, efektif. Bukan berarti, sekali lagi, dengan pemahaman itu  kita membenarkan dan tak menghalangi kejahatan-kejahatan seperti itu. Tapi, seperti disebutkan di atas, apa pun yang kita lakukan, harus berdasar cinta.

 

***

 

Nah, setelah tahu sebabnya, sambil melawan/memerangi yang sudah telanjur jadi penjahat, penindas dan teroris, kita berjihad juga untuk melawan kemiskinan dan ketidakadilan,  yang bisa menjadi lahan subur bagi lahirnya kejahatan-kejahatan seperti itu. Orang baik punya peluang buat jadi jahat, orang jahat punya peluang jadi baik.

 

Catatan akhir, kalau penjahat tak mau diperbaiki, sementara kita tidak mampu memperbaikinya (di dunia), ingatlah bahwa Allah Maha Kuasa, pada akhirnya Dia Kuasa mengambil-alih tugas menyelesaikan semuanya, di dunia atau nanti setelah kehidupan dunia. Allah Yahdiinaa wa Yahdiihim.

 

 

 

*Dr. Haidar Bagir adalah Pendiri Gerakan Islam Cinta, penulis buku-buku Islam Cinta bestseller berjudul; Belajar Hidup dari Rumi, Mereguk Cinta Rumi, Love Like Rumi, Risalah Cinta dan Kebahagiaan, Islam: The Faith of Love and Happiness, Semesta Cinta; Pengantar kepada Pemikiran Ibn 'Arabi.

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

  • twitter-round
  • instagram-4-512
  • facebook-7-xxl
  • youtube-2-256
Risalah Islam Cinta

November 23, 2018

October 19, 2018

September 21, 2018

July 20, 2018

May 25, 2018

February 7, 2018

Please reload